TUGAS 1 : SOSIAL MASYARAKAT KOTA DI MASYARAKAT
Pengertian Masyarakat
Berikut
di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi
dunia.
1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2.
Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu
ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3.
Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif
pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
Syarat-syarat Menjadi Masyarakat
Menurut Marion Levy diperlukan empat
kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan / disebut
sebagai masyarakat.
1. Ada sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
1. Ada sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
Pengertian
Masyarakat Pekotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban
community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat
kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat
pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Tipe Masyarakat
Dipandang
dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
- masyarakat paksaan, misalnya Negara, masyarakat tawanan, dan lain-lain
- masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :
- masyarakat nature, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan, suku, yagn bertalian dengan hubungan darah atau keturunan
- masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sabagainya
·
Masyarakat Kota:
1) Perilaku heterogen
2) Perilaku yang dilandasi oleh
konsep pengandalan diri dan kelembagaan 3).Perilaku yang berorientasi pada
rasionalitas dan fungsi
4) Mobilitassosial,sehingga dinamik
5) Kebauran dan diversifikasi cultural
6) Birokrasi fungsional dan
nilai-nilaisekular
7) Individualisme
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan
yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat
pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem
kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan
ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan
kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan
penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian,
walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat
gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan
di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja. Golongan
orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting.
Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan
yang dihadapi.
5 Unsur Lingkungan Perkotaan
Secara
umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan, seyogyanya mengandung 5
unsur yang meliputi :
- Wisma : unsure ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini menghadapkan
- dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang
- memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan
- Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
- Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
- Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
- Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.
Fungsi Eksternal
Di pihak lain kota mempunya juga
peranan/fungsi eksternal, yakni seberapa jauh fungsi dan peranan kota tersebut
dalam kerangka wilayah atau daerah-daerah yang dilingkupi dan melingkupinya,
baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan pengertian ini diharapkan
bahwa suatu pembangunan kota tidak mengarah pada suatu organ tersendiri yang
terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya saling pengaruh
mempengaruhi.
Marbun
(1990) menyadari bahwa pada umumnya orang telah mengetahui wujud
fisik kota. Namun untuk memberikan pengertian yang lugas
(definisi) tentang kota amatlah sulit. Definisi tentang kota yang ada
tidak selalu tepat dan tergantung dari fokus atau aspek pendekatannya.
Pendekatan dari satu disiplin ilmu memberikan pengertian kota yang
berbeda dengan disiplin ilnm yang lain. Konsepsi kota pada masa
lalu berbeda dengan masa sekarang. Bahkan konsepsi kota dari suatu
negara berbeda dengan negara lain. Hal-hal tersebut di atas
menunjukan bahwa banyak faktor atau unsur yang ada, membentuk
dan berpengaruh terhadap keberadaan dan perkembangan suatu
kota, sehingga dapat dikatakan bahwa kota merupakan suatu
sistem (Chad-wick,1981).
Dalam
kehidupan sehari-hari kota akan selalu tampak sibuk. Warga kota yang
menjadi penghuni kota memerlukan tempat berteduh, tempat
bekerja, tempat bergaul, dan tempat menghibur
diri. Oleh karena itu, dapat dilihat beberapa
aspek kehidupan kota antara lain aspek sosial, ekonomi, budaya,
pemerintah dan sebagainya. Pada umumnya kota selalu dipandang
sebagai pusat kegiatan ekonomi, pusat kegiatan pendidikan, pusat pemerin
tahan dan sebagainya. Jadi. fungsi dan peranannya atau sumber
pengaruh atau sumber stimulasinya banyak berasal dari kota. Ditinjau dari
interaksi tempat, kota itu memiliki tingkat atau rengking yang tertinggi,
walaupun demikian dari tempat-tempat pemukiman yang sederhana.
Menurut
Bintarto (1989) dari segi geografi, kota dapat diartikan sebagai suatu sistem
jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi
dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang
matrialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan
oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk
yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan
matrialistis dibandingkan dengan daerah dibelakangnya.
Dari
fakta, kota merupakan tempat bermukim warga kota, tempat bekerja, tempat hidup
dan tempat rekreasi. Oleh karena itu, kelangsungan dan kelestarian kota
harus didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai untuk waktu yang selama
mungkin. Menurut Bintarto (1989) modernisasi kota mempunyai pengaruh terhadap,
jumlah penduduk kota, keanekaragaman struktur sosial dan ekonomi, kebijaksanaan
penggunaan sumber-sumber keuangan, kelembagaan kota dan sebagainya. Modernisasi
ternyata juga tidak selalu memberi manfaat terhadap kehidupan, tetapi dapat
juga berpengaruh sebaliknya dan untuk itu tentunya diharapkan modernisasi dapat
melenyapkan pencemaran lingkungan terutama di kota yang sudah terjadi
penurunan kualitas lingkungan.
Seseorang
yang sudah lama meninggalkan sebuah kota, kemudian kembali ketempat
itu, tentu akan merasakan betapa kota yang dahulunya sejuk dan segar, sekarang
telah berubah menjadi panas dan berdebu. Salah satu faktor penyebab
naiknya temperatur kota adalah arus urbanisasi yang deras
masuk kota. Kota yang dahulunya hanya didiami puluhan ribu penduduk saja
sekarang didiami ratusan penduduk. Jelas bahwa urbanisasi dapat menaikan angka
kepadatan yang mengakibatkan kota semakin sumpek dan panas. Banyaknya
orang akan menaikkan konsumsi energi dan penggunaan alat-alat
rumah tangga yang menghasilkan panas buangan. Kalau
hanya dilihat pada satu atau dua alat saja, efek
sampingnya dapat diabaikan, tetapi jika ratusan ribu alat-alat digunakan
dalam kota, tentu hal ini sedikit banyak mempunyai andil
dalam menaikan temperatur kota.
Dampak
Urbanisasi Dan Perkembangan Kota Terhadap Lingkungan Sosial Masyarakat
Secara
naluriah, manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, melalui
berbagai cara dan usaha dalam bentuk budaya, mempunyai kehendak yang antara
lain untuk
1. Mempertahankan dirinya
2. Mempertahankan hidup generasinya
melalui kebutuhan hidupnya
3. Mengembangkan kehidupannya, melalui
pemenuhan kebutuhan hidupnya, namun banyak faktor yang mempengaruhi baik secara
langsung maupun tidak langsung terhadap hidup dan kehidupan
manusia.
Melalui berbagai cara dan media, diperoleh informasi
bahwa peluang untuk mengembangkan kehidupannya, melalui pemenuhan
kebutuhan hidupnya lebih baik di daerah urban dari pada di rural.
Keadaan yang demikian merupakan faktor pendorong dan penarik banyak orang (baik
laki-laki maupun wanita) dari daerah perdesaan untuk mengadu
nasibnya di daerah perkotaan. Urbanisasi dilakukan untuk mempertahankan
hidup dan mempercepat proses pengembangan kehidupan. Namun dengan
serba kontrasnya keadaan antara daerah perdesaan dan daerah perkotaan
sebagai akibat dari kebijaksanaan pembangunan yang urban bias
(Todari, 1985) menjadikan usaha tersebut justru dapat menimbulkan
dampak negatif bagi yang bersangkutan.
Menurut Marbun (1990) di darah
perkotaan dampak negatif tersebut antara lain timbulnya:
1.
Permukiman
kumuh, dan permukiman liar;
2.
Banyak
tuna wisma maupun tuna karya;
Perbuatan pelanggaran hukum khususnya hukum pidana
seperti kriminalitas, prostitusi dan sebagainya. Prostitusi, sebagai
salah satu dampak negatif urbanisasi melalui
berbagai usaha telah lama diusahakan untuk diatasi. Namun pada
kenyataannya prostitusi masih hidup dan berkembang sejalan dengan
perkembangan manusia. baik secara kuantitas maupun kualitas.
REFERENSI :
TUGAS
2 : SOSIAL MASYARAKAT DESA DI MASYARAKAT
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan
yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga
masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar
sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan
ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan
kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan
penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian,
walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat
gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan
di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja . Golongan
orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting.
Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan
yang dihadapi. Ciri-ciri Masyarakat desa
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri masarakat desa sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mengenal ciri-ciri masarakat desa sebagai berikut :
a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b.
Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu
mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka
akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan
keseragaman persamaan.
c.
Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan
keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif,
perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu
saja.(lawannya Universalisme)
d.
Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh
berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan
yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e.
Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan
antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan
sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada
desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar. Hakikat
Dan Sifat Masyarakat Pedesaan. Seperti
dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat In¬donesia lebih dari
80% tinggal di pedesaan dengan mata pencarian yang bersifat agraris. Masyarakat
pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh
orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang
adem ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan
lelah dari segala kesibukan, keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir. Maka tidak jarang orang kota
melepaskan segala kelelahan dan kekusutan pikir tersebut pergilah mereka ke
luar kota, karena merupakan tempat yang adem ayem, penuh ketenangan. Jadi
Paguyuban masyarakat itulah yang menyebabkan orang-orang kota menilai sebagai
masyarakat itu tenang harmonis, rukun dan damai dengan julukan masyarakat yang
adem ayem. Tetapi sebenarnya di dalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal
bermacam-macam gejala, khususnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam
masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan sosial. Gejala Masyarakat Pedesaan
a) Konflik ( Pertengkaran).
a) Konflik ( Pertengkaran).
Ramalan
orang kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis
itu memang tidak sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat
pedesaan adalah penuh masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari mereka
yang selalu berdekatan dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan
hal ini menyebabkan kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga
kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak
dan sering terjadi. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar
pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah tangga.
Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah
kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
b) Kontraversi (pertentangan).
b) Kontraversi (pertentangan).
Pertentangan
ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat),
psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli
hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut
kebiasaan masyarakat.
c)
Kompetisi (Persiapan).
Sesuai
dengan kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai
sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan
manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa
positif dan bisa negatif. Positif bila persaingan wujudnya saling meningkatkan
usaha untuk meningkatkan prestasi dan produksi atau output (hasil). Sebaliknya
yang negatif bila persaingan ini hanya berhenti pada sifat iri, yang tidak mau
berusaha sehingga kadang-kadang hanya melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal
ini kurang ada manfaatnya sebaliknya menambah ketegangan dalam masyarakat.
d)
Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan.
Masyarakat
pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja
keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah
masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan
tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi apabila orang berpendapat bahwa
orang desa didorong untuk bekerja lebih keras, maka hal ini tidaklah mendapat
sambutan yang sangat dari para ahli.
Karena pada umumnya masyarakat sudah bekerja keras.
Karena pada umumnya masyarakat sudah bekerja keras.
Masyarakat
Pedesaan, pengertian desa/pedesaan
Yang
dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai
berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu
masyarakat pemerintahan tersendiri. Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan
atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat
ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale
balik dengan daerah lain.
Sedang
menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan
ciri ciri sebagai berikut :
a. mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal
antara ribuan jiwa.
b. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan
terhadap kebiasaan
c. Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling
umum yang sangat dipengaruhi alam
REFERENSI :
TUGAS
3 : ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI YANG BERKAITAN DENGAN TEKNIK INDUSTRI
Manusia tidak dapat
dipisahkan dari teknologi; teknologi terkandung didalam dirinya dan didalam
cara-cara hidupnya dalam masyarakat. Sebaliknya teknologi tidak dapat terlepas dari
manusia, teknologi itu hanya ada karena diciptakan oleh manusia. Kemampuan
berpikir manusia yang sistimatis, analitis, mendalam dan berjangka panjang
menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan melahirkan teknologi, yaitu
cara-cara berdasar ilmu untuk menghasilkan barang atau jasa. Manusia
memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan proses-proses nilai tambah yaitu
proses-proses merubah bahan mentah dan barang-barang setengah jadi menjadi
barang-barang jadi yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Teknologi penting
karena merupakan penggerak utama proses nilai tambah tersebut. Sedangkan proses
nilai tambah itu sendiri merupakan proses kompleks yang berjalan terus menerus
dan hanya dapat dikatakan berhasil jika pemanfaatan mesin-mesin, ketrampilan manusia,
dan material sepenuhnya dapat diintegrasi oleh teknologi sehingga menghasilkan
produk barang dan jasa yang bernilai lebih tinggi dari nilai material dan
masukkan lainnya. Karena sifat integratif inilah maka dalam suatu proses
ekonomi apapun juga, teknologi merupakan unsur yang paling menentukan dalam
proses nilai tambah. Semakin effisien dan produktif proses-proses nilai tambah,
semakin meningkat taraf hidup masyarakatnya.
Sejarah peradaban manusia selalu berkembang terus, tetapi dalam
perjalanannya masyarakat bangsa timbul dan tenggelam. Masyarakat dan budaya
Hellenic, Aztec, Mesopotamia hilang; kerajaan besar Ottoman dan Austro-Hongaria
yang runtuh baru 70 tahun yang lalu, sekarangpun banyak yang tidak mengenalnya;
bangsa Amerika dan Jepang baru tumbuh dalam 100 tahun ini, sedangkan kerajaan
besar Inggris sedang diambang senja. Kita juga mengenal jaman-jaman kejayaan
kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan lain-lain. Berbagai pendekatan dicobakan
untuk menjelaskan apa yang menyebabkan masyarakat bangsa surut dan tenggelam
dan apa yang membuatnya tumbuh dan kuat. Pendekatan budaya dan agama, geografi,
kemeliteran, sumberdaya alam membuahkan berbagai konsepsi, akan tetapi satu
yang berlaku umum adalah bahwa kemampuan inovasi dan kemampuan melakukan
akumulasi secara sistematik dari inovasi itu merupakan prasyarat kekuatan.
Beberapa contoh
pemanfaatan iptek dalam bidang industri
-Transportasi:
IPTEK sebagai alat ukur besar dan lebar jalan serta seberapa jauh sebuah jalan
harus di buat... masalah jalan bukan hal kecil, karena perlu pengukuran yang
detail dan kerja lapangan yang benar, belum lagi sarana yang di gunakan sebagai
alat bantu pembuatan jalan tersebut.. seperti traktor, aspal dan batu kerikil
sebagai media.
-Kesehatan:
IPTEK dalam bidang kesehatan untuk sarana pembantu dokter, biasanya berupa
mesin operasi teknologi canggih laser,x-ray,dll/alat bantu pengobatan lainnya
yang memerlukan teknologi canggih.
-Ekonomi: IPTEK dalam hal ekonomi sangat membantu di bidang penataan sitem produksi dan keuangan, seperti pabrik yang selalu mengadakan tes uji untuk sebuah produk yang di jualnya.. lalu proses pembuatan barang yang memerlukan alat berat berteknologi tinggi agar dapat membuat proses produksi masal.
-Ekonomi: IPTEK dalam hal ekonomi sangat membantu di bidang penataan sitem produksi dan keuangan, seperti pabrik yang selalu mengadakan tes uji untuk sebuah produk yang di jualnya.. lalu proses pembuatan barang yang memerlukan alat berat berteknologi tinggi agar dapat membuat proses produksi masal.
-Kebudayaan:
IPTEK di dalam kebudayaan artinya menjaga suatu budaya dengan kemampuan
pembelajaran seni, dalam hal melestarikan suatu budaya agar tidak
hilang/diklaim oleh negara lain, regenerasi dalam hal ini sangat penting karena
budaya turun temurun hanya di ajarkan melalui kerabat seperti halnya warisan.
-Industri:
IPTEK dalam hal industri tidak jauh berbeda dengan IPTEK dalam bidang ekonomi,
dalam hal industri, iptek terdapat dalam proses pembuatan suatu produk industri
agar menjadi nilai uang.
-Hankam:
IPTEK dalam hal hukum yaitu dimana badan hukum dapat berjalan sesuai aturan
undang-undang yang berlaku.
-Politik: IPTEK dalam bidang politik berlaku untuk mengatur
jalannya pemerintahan di negara, tanpa adanya iptek, suatu negara tidak akan
berkembang. alias berjalan di tempat.
REFERENSI :
TUGAS
4 : LINGKUNGAN MISKIN ATAU TERBELAKANG DI SUATU NEGARA
Penduduk
miskin tidak hanya berada di negara-negara sedang berkembang saja, namun
ternyata ditemukan juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Data tahun 2010
menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Amerika Serikat mencapai 15,1
persen. Lantas bagaimana patokan angka kemiskinan di negarasuper power tersebut?
Untuk tahun 2012 misalnya jika satu keluarga dengan empat anak pendapatannya
tidak melebihi 23.495 US dollar per tahun, maka dikatagorikan
penduduk miskin.
Dengan
mengacu pada data tahun 2010, maka yang masuk daftar sepuluh negara bagian
“termiskin” di Amerika Serikat, dengan kata lain persentase jumlah
penduduk miskinnya paling tinggi, secara berurutan: 1. Mississippi (22,7
persen); 2. Lousiana (21,6 persen); 3. District of Columbia (19,9
persen); 4. Georgia (18,7 persen); 5. Arizona (18,6 persen); 6. New
Mexico (18,6 persen); 7. Texas (18,4 persen); 8. Kentucky (17,7 persen);
9. North Carolina (17,4 persen); 10. Alabama (17,3 persen).
Untuk
Negara bagian District of Columbia (DC) yang menempati peringkat
ketiga dalam hal persentase jumlah penduduk miskin, ternyata ada
hal yang unik. Pendapatan per kapita penduduknya justru menempati peringkat
satu di Amerika Serikat, yaitu mencapai 71.044 US dollar, hal itu
menunjukkan adanya tingkat kesenjangan ekonomi yang paling lebar di Negara
bagian tersebut.
Untuk
negara bagian Mississippi yang menempati peringkat pertama dalam hal persentase
jumlah penduduk miskin, diketahui bahwa tingkat pendapatan per kapitanya
menempati peringkat terakhir, yaitu hanya 31.186 US dollar, jauh di bawah
rata-rata nasional yang mencapai 40.584 US dollar.
Lantas
negara bagian mana saja yang “termakmur” berdasarkan persentase jumlah penduduk
miskin yang paling rendah ? Inilah daftarnya secara berurutan : 1. New
Hampshire (6,6 persen); 2. Connecticut (8,3 persen); 3. Wyoming (9,6
persen); 4. Wisvonsin (9,9 persen); 5. Utah (10,0 persen); 6. Nebraska (10,2
persen); 7. Iowa (10,3 persen); 8. Minnesota (10,5 persen); 9. Massachusetts
(10,6 persen); dan 10. Virginia (10,7 persen). Khusus untuk negara bagian
Connecticut dan Massachusetts pendapatan per kapita penduduknya sudah melampaui
angka 50.000 US dollar.
Sementara
laporan United States Census Bureau tahun 2013 mengungkapkan,
bahwa jumlah penduduk miskin di Amerika Serikat tahun 2012 mencapai 46,5
juta atau sekitar 14,81 persen. Dijelaskan bahwa dampak resesi tahun
2007-2008 ditambah perdebatan mengenai pengetatan anggaran telah memperlebar
jurang pendapatan penduduk. Setidaknya kasus di negara bagian DC mencerminkan
hal itu. (Atep Afia).
REFERENSI :
http://www.kangatepafia.com/2014/02/negara-bagian-termiskin-di-amerika.html


