Kebudayaan Minangkabau yang mulai ditinggalkan, alasan serta solusi yang ditawarkan - tugas IBD ke 2
Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang tersebar
terutama di wilayah Sumatera Barat. Orang Minangkabau akan merasa terhina jika
dirinya disebut tidak beradab karena semenjak Islam masuk ke Minangkabau, adat
Minangkabau mulai menyatu dengan ajaran Islam, seperti istilah yang kita
kenal yaitu adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Maksud dari konsep
tersebut adalah orang yang tidak beradab akan termasuk ke dalam kategori orang
yang tidak beragama dalam masyarakat Minang.
Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di
Indonesia. Maksudnya, setiap anak yang lahir baik laki-laki maupun perempuan
secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau
garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga Ibu. Orang Minangkabau juga sering
pergi merantau. Mereka berani pergi merantau karena sudah dibekali dengan
ajaran silat dan iman yang kuat. Oleh sebab itu orang Minag dikenal sebagai musim
yang taat.
Dewasa ini, Budaya Minangkabau seperti telah kehilangan eksistensinya.
Jangankan di daerah lain, di daerah Sumatera Barat yang mayoritasnya bersuku
Minang pun mulai melupakan budaya mereka sendiri. Mereka seolah-olah malu akan
budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang terdahulu.
Generasi muda acuh tak acuh terhadap sejarah Minangkabau, apa saja budaya
yang terkandung didalamnya, bagaimanakah uniknya budaya Minang, dsb. Para
generasi muda cenderung lebih peduli dan bangga dengan kebudayaan asing yang
mulai bebas masuk kemana saja, termasuk di daerah Minangkabau. Hal tersebut
menjadi faktor utama yang mempengaruhi moral, etika, gaya, pergaulan dan cara
berperilaku generasi muda.
Lantas apa sajakah Budaya Minangkabau yang mulai hilang seiring
berkembangnya zaman saat ini?
Mari kita telaah beberapa diantara Budaya Minangkabau yang mulai hilang
tersebut.
1.
Surau sebagai tempat belajar
dan mengajar
Anak laki-laki Minang dahulunya
menjadikan surau sebagai tempat diskusi, mencari dan menuntut ilmu. Disana
mereka belajar diajarkan mengaji dan silat bahkan tak jarang mereka tidur pun
di surau.
Kebiasaan seperti ini sudah sangat jarang kita jumpai saat sekarang ini.
Sebagian dari mamak dan pemuda lebih mudah kita jumpai duduk di lapau (kadai)
untuk sekedar minum kopi, bercengkerama atau bahkan main domino.
2.
Rumah Gadang sebagai tempat
tinggal
Orang-orang terdahulu bergotong royong
mendirikan rumah gadang untuk dijadikan tempat tinggal. Rumah gadang terdiri
atas sembilan ruang dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada yang digunakan sebagai
tempat tidur pribadi, kamar untuk anak yang baru menikah dan ada pula
yang digunakan sebagai tempat tidur tamu. Di halaman rumah Gadang terdapat
beberapa rangkiang yaitu tempat untuk menyimpan beras. Rangkiang digunakan pada
saat kondisi sedang krisis pangan atau ada sanak saudara yang membutuhkan beras
untuk dimakan. Fungsi sosial dan ekonomi sangat jelas terlihat disini.
Namun, saat ini Rumah Gadang sudah
beralih fungsi menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan masalah, baik
masalah antara anak dengan orangtua, antara suami dengan istri, mamak dengan
kemenakan, dsb. Rumah Gadang tidak dijadikan sebagai tempat tinggal lagi.
Orang Minang lebih memilih untuk membangun rumah baru dengan design menyerupai
rumah orang Eropa. Di satu sisi sangat disayangkan kita tidak tinggal di
rumah gadang lagi, tapi di lain sisi kita harus pindah dari rumah gadang karena
bangunannya yang mulai rapuh. Fungsi rumah gadang tidak ada salahnya dialihkan
sebagai tempat pertemuan dan diskusi untuk menyelesaikan suatu masalah,
namun sejarah rumah gadang jangan sampai kita lupakan.
3.
Talempong
Talempong adalah alat musik pukul khas
Minangkabau. Talempong terbuat dari bahan kuningan, tapi ada juga yang terbuat
dari kayu dan batu. Talempong ini berbentuk bundar dengan bagian berlobang
dibawahnya sedangkan bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol
berdiameter lima sentimeter sebagi tempat untuk dipukul. Talempong memiliki
nada-nada yang berbeda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang
dipukulkan pada permukaannya. Talempong biasanya digunakan dalam pertunjukan
atau penyambutan seperti tari piring, tari pasambahan, dan tari gelombang, pada
saat iring-iringan marapulai-anak daro (talempong pacik).
Zaman sekarang pemuda-pemudi Minang
lebih senang memainkan piano dibandigkan memainkan talempong. Padahal antara
piano dan talempong memilki nada yang sama. Hanya cara memainkannnya saja yang
berbeda, jika piano dipencet tutsnya, talempong dimainkan dengan memukul
permukaannya. Yang lebih parahnya lagi bahkan ada pemuda Minang yang tidak
mengetahui sama sekali apa itu talempong dan bagaimana bentuk talempong
tersebut.
4.
Randai
Randai merupakan salah satu permainan
anak nagari di Minangkabau. Randai dimainkan oleh beberapa orang
sekitar 6-10 orang. Dalam randai ada seorang pendendang yang akan
membuka cerita dan memberi salam kepada penonton yang diiringi oleh
seorang pemain saluang. Pada saat randai dimulai, para pemain terlebih
dahulu memberi salam kepada penonton. Setelah itu mereka melingkar dan memulai
gerakan-gerakan silat dengan nada hep-tah-tiah yang dipimpin oleh satu orang.
Kemudian barulah kaba (cerita)dimainkan sampai selesai.
Di zaman era globalisasi ini randai
kalah bersaing dengan permainan anak modern, seperti band. Kebanyakan pemuda
minang akan datang baramai-ramai menonton pertunjukan band, sebaliknya mereka
enggan untuk menonton pertunjukan randai. Hal ini tentu saja akan membuat
keberadaan randai berkurang karena untuk menontonnya saja banyak yang enggan,
apalagi mengambil peran di dalamnya.
5.
Baju Kuruang
Siapa sih yag tidak mengenal baju
kuruang? Baju kuruang merupakan baju yang sering digunakan Gadih Minang
dan merupakan baju khas pemudi Minang saat itu. Baju kuruang adalah baju
yang longgar, tidak transparan, sopan, tertutup dari leher sampai mata kaki dan
dilengkapi dengan tutup kepala (jilbab, selendang/kerudung) yang bentuknya
beraneka ragam sesuai dengan daerahnya.
Dikaitkan dengan zaman sekarang,
jangankan generasi muda, perempuan yang sudah menikah pun kini telah jarang
dijumpai memakai baju kuruang. Baju kuruang dinilai kuno, tidak
fashionable,panas, dan berbagai alasan lainnya. Banyak kalangan yang menilai
bahwa baju kuruang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut saya
pendapat ini tidak benar, buktinya dengan berpakaian muslimah kita tetap bisa
merasa nyaman dan bebas beraktifitas. Bukankah baju kuruang hampir sama dengan
baju muslimah? Inti dari baju kuruang adalah longgar, tidak transparan, sopan
dan memakai kerudung. Hal ini sama dengan baju yang dipakai seorang muslimah
dalam Islam karena budaya Minangkabau merupakan akulturasi budaya Islam.
Pakaian ketat, transparan, tidak menggunakan jilbab bukanlah budaya orang
Minangkabau. Budaya yang seperti itu merupakan budaya orang asing yang sangat bertentangan
dengan budaya kita sendiri.
6.
Makan Bajamba, duduak basimpuah
dan baselo serta makan dengan tangan.
Makan bajamba merupakan budaya
orang Minangkabau. Makan bajamba dilakukan dengan cara duduk melingkar, duduk
baselo bagi laki-laki dan basimpuah bagi perempuan. Nasi dan sambal diletakkan
di atas daun pisang (sepanjang daun pisang tersebut). Kemudian nasi mulai
dimakan bersama secara serentak. Orang minang makan tidak menggunakan sendo
melainkan dengan menggunakan tangan.
Namun, dapat kita lihat zaman sekarang budaya makan bajamba sangat jarang
ditemukan. Orang Minang lebih sering makan sendiri-sendiri dan mulai meniru
budaya barat yaitu makan dengan menggunakan sendok. Makan dengan sendok ini sih
wajar saja dilakukan, akan tetapi sebaiknya digunakan pada saat acara-acara
tertentu saja seperti menghadiri kenduri, dsb. Jadi, Budaya makan bajamba dan
makan dengan tangan jangan sampai kita tinggalkan apalagi dilupakan.
Itulah beberapa contoh realita kebudayaan Minang yang mulai hilang ditelan
zaman. Kita sebagai generasi muda jangan hanya berdiam diri saja, buktikan
bahwa semangat jiwa muda kita itu masih menyala untuk melestarikan budaya
Minangkabau yang unik dan tidak kalah menarik dengan kebudayaan asing.
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak sekali kebudayaan, dan
kebudayaan tersebut berbentuk kebudayaan lokal. Budaya asing yang terus masuk
tanpa terbendung ke Indonesia dapat mengikis ataupun melunturkan budaya lokal
yang terdapat di Indonesia, sehingga upaya-upaya harus dilakukan dalam
menanggulangi permasalahan tersebut sehingga budaya Indonesia dapat tetap ada.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, namun yang paling
penting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa
memiliki akan budaya tersebut, sehingga dengan rasa memiliki serta mencintai
budaya akan membuat orang mempelajarinya sehingga budaya akan tetap ada karena
pewaris kebudayaan akan terus ada.
Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya,
diantaranya yaitu:
- Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya budaya sebagai jati diri bangsa
- Ikut melestarikan budaya dengan cara berpartisipasi dalam pelaksanaannya
- Mempelajarinya
- Mensosialisasikan kepada orang lain sehingga mereka tertarik untuk ikut menjaga atau melestarikannya
sumber :



0 komentar:
Posting Komentar